Ini hanya tentang aku.

Aku hanyalah seorang lelaki biasa yang memang agak berbeda.

Aku berdiri!

Berdiri disini tidak akan pernah lelah.

Aku diam, mencoba tenang di saat resah.

Setiap hari, di waktu yang sama, di jam yang sama pula.

Aku akan tetap bertahan sampai batas waktu yang tak ditentukan.

Tak seorang pun memahami diriku. Tak akan!

Biarkan hatiku ini berteriak dan memberontak!

Biarkan hatiku ini meraung raung kesakitan!

Dunia tak boleh tau!

Biarkan orang berkata apa tentang diriku ini.

Aku hanya tak peduli, sekian.

Aku adalah aku, dimana diriku tak mungkin melupakan namamu.

Aku adalah aku yang selalu membutuhkanmu.

Aku yang selalu mencoba bangkit di belakangmu.

Aku yang selalu bersemangat mendengar setiap cerita ceritamu.

Aku yang selalu siap ketika suatu saat kelak kamu membutuhkanku.

Ialah aku, orang yang selalu kangen dengan aroma tubuh seorang gadis pujaanya.

Hanya aku yang berbeda dengan lainya, aku yang masabodo apa kata orang.

Indah sekali jika kamu bersedia membagi duniamu bersamaku.

Akan aku bawa kamu keluar, pergi jauh dari dunia ini.

Kita akan terbang, mengelilingi bumi bersama.

Aku hanya bisa menawarkan sebuah imajinasi gila.

Imajinasi liar yang menurutku sangat menjanjikan.

Hatiku sudah memutuskan.

Ohh indahnya.

Advertisements

Inspirasi

We se. Yah kok nggak enak ya awal kalimat postinganku? Gimana lagi? Kenyataanya begitu sih.  Sederhana banget memang, instant, always work, yah at least for me.  Suara air yang menetes itu sebenernya yang bikin aku nemu sesuatu, bukan apa apanya.

Setelah wese, adalagi sumber inspirasiku.  Meja makan.  Kenapa?  Jangan kira karena aku suka makan aja! Gini, kalo menurutku meja makan adalah tempat dimana semua macam benda berada.  Obat obatan, air, teh, kopi, tupperware, hape, krupuk, surat dari sekolah, semut, dan makanan itu sendiri yang biasanya kalo jam 10 malem nyisa piringnya doang.  Nah, kalo makan biasanya aku lari ke depan tv.  Alhamdulillah, di depan tv itu biasanya aku nemu ide ide yang bisa dibilang aneh.  Ujung ujungnya masuk ke catatan kecilku kalo nggak masuk halaman belakang binder burung hantu ijo.

Dia.  Widih … ini obsitas sekali! Eh nggak ada yang obesitas, orang dianya kurus kok.  Hahaha tak bisa dihindari, kehadiranya terkadang juga membantu banget.   Sumber inspirasi di tulisan tulisanku juga banyak yang dari dia juga.  Tapi bedanya aku punya banyak dia.  Nahahahaha aku sendiri akhirnya bingung nentuin “Dia of the week” nya siapa.

Selain itu, ada beberapa faktor penyebab munculnya sebuah inspirasi, deadline nih misalnya.  Nggak cuman aku doang, orang orang se dunia juga idenya jenius jenius dikala deadline memburu.  Memang ya, orang kalo banyak santainya otak jadi lola.  Yah paling tidak, berfikir tentang dia bisa menjadi cara kerja otak yang paling aku suka.  

Kali ini “Dia of the week” nya adalah ….. masih stuck bung sama yang tiga bulan lalu.  Dia berhasil mendapatkan nominasi “Dia of the week” 3 bulan berturut turut.  Selamat ya, gadis serba abu abu barcode hari ini! 🙂

I just dont know, writing again and again!

Bingung antara mana yang realistis, mana yang cuman mimpi dan mana yang imajinasi.  Terkadang, imajinasi dan mimpi bisa sangat mirip sekali.

 Imajinasi anak kecil yang ingin terbang bebas di angkasa, menyentuh awan lalu memakanya seperti gulungan arum manis yang dijual di tepi jalan, sedangkan imajinasi seorang yang berumur lebih dewasa akan berkiblat pada realita yang didukung oleh keyakinannya dan ilmu tentang sesuatu yang pasti.  

Ketika kita membangkitkan sebuah memori yang sangat berarti, terbanyang disana sebuah kebahagian ataupun kesedihan.  Itu adalah secuil mimpi yang terwujud, ataupun yang kalah, dimakan oleh realita.  Seperti kematian, kita pasti bermimpi bisa selamanya hidup berdampingan dengan seseorang, keluarga atau siapapapun itu. Namun, sekali lagi, realita telah mengambil beberapa dari mimpi mimpi kita.

Mimpi itu enggak realistis! SIapa bilang? Kamu? Atau jutaan orang yang malas untuk membangunkan dirinya dari mimpi mereka? Aduh susah itu! Jangan aneh aneh deh mengartikan mimpi.  Mimpi ya mimpi.  Ketika gagal ataupun berhasil itu adalah realita.  Sadarkah, bahwa kamu disitu adalah sebuah proses?

Ingin sekali aku hidup dalam sebuah mimpi yang realistis, meskipun itu hanya imajinasiku saja.  

Semua mimpi yang dimana aku disitu melakukan sebuah proses yang panjang dan melelahkan dan berujung pada sebuah arti sukses.  Ya ini sebenernya arti dari kesuksesan.  Sukses itu ialah kamu sendiri yang mengartikan.  Bukan orang lain! Pingin sukses? Buat dirimu teriksa karena suatu proses, petik mimpimu, jadikan kenyataan.  

Realita yang menyenangkan, ketika bertemu teman teman yang bikin kita selalu nyaman, pacar bagi sebagian orang awam dan menjadi diri kita sendiri!

Butiran debu yang menghiasi perabotan tua itu adalah realita, luka yang kamu dapatkan juga bukan mimpi dan bagi sebagian orang yang punya, pacar itu juga bukan imajinasi.  Semua itu adalah kamu yang masih berproses. Dan proses itu pasti menyakitkan dan memakan waktu.  

Butuh waktu untuk membersihkan kotoran, butuh waktu untuk menyembuhkan luka, butuh waktu untuk kalian yang berpacaran menjadi terpisah.  Kabar buruknya kalian sudah beranjak dewasa.  Jadi bukan anak kecil yang berimajinasi dan bermimpi arum manis awan lagi.  Kabar baik, kalian masih dalam masa proses, dan! yang penting adalah selama kalian menjalani proses, itulah namanya realistis.

Buku Dongeng.

Tokoh bahagia, cerita berkonflik, jalanan kehidupan yang berliku dan beberapa hal yang tak asing lagi, ketika membaca sebuah buku dongeng.  Hal misterius di ungkapkan ke dalam bahasa yang mudah dimengerti karena rata rata penikmat dongeng adalah kita sendiri, di saat dulu mungkin orang tua atau siapapun itu membacakannya untuk kita.  Sebuah kisah yang menarik untuk disimak, diambil pelajaran, dikenang.  Bagiku, sebuah dongeng ialah cerita yang indah.

Hmm … kenangan. Ya aku tau persis apa itu. Itu adalah pelajaran. Hiburan.  Omong omong lagu yang lagi aku sekarang dengerin enak banget. Lagu ini seharusnya menghiasi kehidupanku sehari hari.  Melody yang sempurna. Judulnya pas banget juga, Buku Dongeng.

Now, I am waiting for the real one.  To replenish my imagination.  Fulfill my passion.  Ini bukan seperti apa kata orang.  Ini tentang sebuah akibat.  Akibat menerjunkan diri ke zona dimana saat itu bahkan kompas pun  tak tau mana utara dan selatan.  Aku buta.

Sekolah Menengah Atas. Perbatasan antara remaja matang menuju dewasa.  Kebanyakan labil.  Gelombang ombak aneh masa kini membawa kita dengan mantap mengelilingi samudra imajinasi seorang remaja. Imajinasi remaja yang luas dan mempunyai perasaan tak ingin dikekang, dilarang, dibatasi, mencoba untuk mendobrak batas, garis aman yang telah ditetapkan.  Seperti perasaan yang semua orang boleh jadi bilang “gak pantes” dipublikasi di umum.  Sebenernya nggak ada orang yang nggak ngerasain itu.  Permasalahanya ada pada dimana mereka mau menerima keberadaan dari perasaan itu sendiri. Karena apa mereka itu tak mau? Ya karena lain mereka tidak mau menerjunkan diri ke zona yang rawan untuk menjadi buta arah.

Ketika itu semua berlalu, mereka akan mengetahui bahwa pada akhirnya mereka akan mengenang sebuah memori lama itu dengan sendirinya dari sebuah buku dongeng miliknya sendiri, di kepalanya.  Buku dongeng yang indah, buku yang ceritanya melegenda di dalam sel sel otaknya.  Disanalah akan muncul beberapa nama yang akan selalu dikenang.  Dikenang setiap inchi dari visual fisiknya ketika melihat, mendengar atau bahkan bersentuhan.  Maka boleh jadi itulah yang menjadi penyebab air mata selalu menetes.  Ya buku dongeng mereka sendiri.

Aroma tubuhnya yang familiar, suara tawa, tatapan mata dan berbagai hal hal kecil yang sungguh tak terlupakan akan tercatat. Ketika seseorang itu jatuh, biasanya mereka akan menikmatinya dan memutar balik semua cerita yang ada di buku dongengnya.  Mungkin berlebihan, akan tetapi sebenernya rasa yang timbul karena seseorang dapat membuat hidup menjadi lebih berwarna.  Apalagi ketika seseorang yang menjadi tokoh favorit buku dongengmu kamu beri kesempatan untuk menuliskan ceritanya di dalam bukumu itu. Berbahagialah! Namun, jangan lupa ketika itu terjadi, kamu berada dalam zona yang rawan.  Karena mungkin mereka akan menolak untuk menulis kisahnya dalam buku dongengmu ataupun dia menemukan buku dongeng lain yang menawarkan cerita yang lebih menarik.

Hidup ini selalu sebuah persaingan.  Persaingan pertamamu ialah selamat dari dunia luar disaat kamu bertubuh mungil lemah tak berdaya dan tak yang tak mempunyai nilai kecuali segalanya bagi orang yang melahirkanmu, meskipun bagi beberapa kalangan, mereka tak menganggap ibu adalah sosok mulia.  Maka beruntunglah kamu semua yang mempunyai ibunda yang penyayang!  Kamu mempunyai tokoh dongnengmu yang pertama di dalam kehidupan liarmu ini.   Ibunda kita adalah tokoh lain pertama  yang menuliskan kisahnya pada buku dongeng kita yang tebal ini.

Aku ingin seperti kebanyakan orang, ketika mempunyai buku dongeng dengan sejuta tokoh yang mengisi setiap konflik, pertikaian, permasalahan, penyelesaian, persahabatan, tentang cinta dan kasih sayang dan tentang seluruh orang, terlebih tentang kamu.  Hanya dirimu. Maka kemarilah, bersamaku, tuliskan seluruh imajinasi liarmu.  Bebaskan dirimu, mari kita menulis kisah kita bersama, dalam buku dongeng baru.

Hari Gini

Hari gini masih galauan sob? Buat apa coba? Galau menyiksa diri banget sob, menempatkan lu di posisi paling pojok yang bikin kamu ngerasa nggak enak seharian.  Galau itu apa lagi sob? Selain cuman bikin lu nulis entah di twitter ato blog?

 

Nih ada tips ilangin galau:

– Buat Ape Galau?

-Emang galau bisa bikin lu dapet cita cita?

-MESO SE KERAS KERASNYA. HINA DAN CACI MAKI!

lalu buat janji gak bakal galauin.  Bodo amat sama janji yang sudah di denger/diucap ama yang kamu galauin.  NIKMATIN HIDUP.  PERCAYALAH, LEWAT 10 BULAN KURANG / MAKSIMAL lu bakal lupa deh sama semua kejadian.  tamat 😉

 

KALO TERNYATA ADA FLASHBACK??

SAY,  ” I DONT GIVE ANY **** ” dan silahkan lanjutkan kegiatan. AWAS FLASHBACK KADANG ITU LENGKET DAN NJEBAK ;))

Pertemuan

Matahari pagi bersinar seiring melajunya roda sepedahku terhadap jalan yang lurus menuju sekolah.  Sepanjang jalan ini aku yang mengenakan jaket hitam ini seakan tak merasakan gerahnya tubuh karena aku tau hari ini akan terasa lebih sejuk dari yang aku pikirkan.

 

Hari itu adalah hari dimana aku sangat ingin meminimalisir kegiatanku yang biasanya selalu terisi walau jadwal bolong bolong.  Hari dimana aku tau harus seperti apa dan berbuat apa.  Aku mulai hariku ini dengan segudang materi matematika yang harus ku pelajari.  Hari itu aku melewati hari dengan sangat cepat yang tanpa kusadari berjam jam aku tak lepas dari kursi dimana aku sedang berlatih soal, hingga suatu ketika aku mendengar bel untuk melaksanakan sholat.

 

Hari itu sekolahanku sedang mengadakan perlombaan seperti 17an.  Jadi keadaan kala itu rata rata orang sedang beristirahat.  Lain dengan lainya, aku sedang melakukan pengamatan harian, mengamati seseorang.  Aneh! Aku nggak nemu apa yang aku cari, biasanya dia selalu menampakan diri didepan sekolah bersama teman temanya.  Pikiranku kacau!

 

Matahari tepat di atas kepala, ini membuat pikiranku semakin kacau!  Selepas sholat, aku hanya bisa duduk temenung, diam, berfikir.  GIni ya rasanya kembali terikat lagi.  Sudahlah, tak guna dan percuma aku memikirkan.  Bisa dibilang ini adalah contoh cinta yang tak mungkin jadi.  Aku tau orangnya dan aku tau kondisiku. Jelas percuma.

 

Ketika semua suasana tersebut sedang kunikmati bersama sepiring nasi ayam kecap, aku menemukan sebuah jawaban mengapa hari ini bakal terasa lebih sejuk.  Jaket hitamku ini ternyata hari ini tidak memberikan gerah.  Justru dengan jaketku ini terik matahari pun terasa nyaman.  Aku menemukan kesejukanku dimana aku sedang berada di situasi panas, kacau, khawatir.  Aku menemukanya tepat di tempat dimana aku sedang mencoba mengunyah semua makananku saat itu.  Ternyata itu kamu toh.  Kamu lah yang ternyata berhasil mendinginkanku dengan caramu yang tidak biasa itu? Ketika aku mencarimu lalu kamu tak muncul melainkan mengejutkanku di ruang makan itu? Wahai gadis ber jilbab biru.

 

Sedikit berlebihan, tapi senang rasanya bisa kembali terikat oleh perasaan ini.  Rasa itu akan selalu ada sampai tuhan memberitahuku mana yang aku harus pilih.  Perasaan yang akan selalu kamu isi dan akan selalu terisolasi dengan baik.  Kamu yang mengisi hatiku, takkan pernah usai.  Hanya kecuali kamu mengambil paksa semua itu.

 

 

Aca Si Anak Jeruk

Ketika itu matahari sedang berdiri tegak simetris, tepat di atas kepala Aca.  Keringat letih membasahi seluruh badanya yang tinggi itu memantulkan cahaya sehingga kulitnya berasa seperti bintang diantara rumput rumputan yang hijau dan luas itu.  Aca, begitulah panggilanya.  Tubuhnya tinggi, wajahnya berseri,  kulitnya putih, sangat indah menawan.   Dibalik semua itu, terbesit sifatnya yang sangat layak mendapat apresiasi teman temanya.

Hari kala itu sedang ceria, awan yang nampak indah menghiasi langit ditemani oleh matahari yang malu malu menampakan diri di antara kerumunannya.   Dari garis horizon terlihat gadis yang sedang berkebun, menggunakan topi pantai  warna oranye, baju berwarna saturasi antara merah dan kuning yang ditambah oleh sepasang sepatu boots berwarna  emas.  Terlihat Aca yang sedang asyik memetik hasil kebun yang selama ini ditunggu tunggu olehnya, juga para teman teman Aca.  Setiap 3 bulan sekali, Aca dan teman temanya selalu mengadakan pesta di salah satu kebunya.  Lokasi favorit ialah Kebun Jeruk.  Aca selalu mengadakan pesta buah di Kebun Jeruk belakang rumah mungilnya.

Kamis malam,  tepat beberapa hari setelah panen.  Awan kelabu menghiasi langit sore yang cantik itu.  Ketika itu, Aca sedang bernasib sama dengan langit.  Dominasi kain tebal warna kelabu menutupi tubuhnya yang tinggi itu secara keseluruhan karena hawa dingin menusuk setiap tubuh penyuka warna oranye itu.  Hari itu dilalui oleh Aca dengan tegar dan santai.  Berharap dia akan mendapat kemudahan.  Ketika ke esokan harinya dia bangun.  Keajaiban pun terjadi, rumah yang dihuni Aca berubah total menjadi warna kesukaanya.  Oranye!  Ada gerangan apa?

Ada udang di balik batu,  ternyata tepat di hari minggu besok, Aca berulang tahun yang ke 19 tahun.  Teman temanya sedang menyusun rencana kejutan,  “ Aca Si Anak Jeruk, selalu menyukai hal berbau jeruk” begitulah tema yang direncanakan.   Aca pun saat itu berhasil di bingunkan dengan keadaan rumahnya yang aneh Jumat pagi.  Ke esokan harinya pun dia dikejutkan lagi dengan  kebun jeruknya yang berbuah lebat dan matang semua.  Hingga tepat hari Minggu malam ketika dia sedang duduk temenung, sendirian, meminum segelas jus jeruk kesukaanya kaget dengan cahaya aneh di Kebun Jeruknya.  Dia pun marah, karena selain berisik, ada cahaya warna warni diantara lamunanya yang membuat dia risih dan terganggu.  Setelah diselidiki, Aca terkejut.  Aca melihat seluruh teman temanya membawa lilin dan seluruh atribut oranye.

Airmata bahagia mengalir sedikit demi sedikit diantara pipinya, menghiasi wajah cantiknya yang menatap seluruh bagian rencana dari teman temanya yang usil tersebut.  Wajahnya yang semula kecut, tiba tiba berubah menjadi seperti wajah kucing di jalan raya yang kagum dengan lampu lampu mobil di jalanan.  Beginilah kisah bahagia dari seorang gadis remaja pedesaan.  Kehidupan sederhana bukan berarti tidak bahagia.  Bahagia itu bisa dimana saja, berwujud apasaja.  Inilah Aca, si anak jeruk.