Pertemuan

Matahari pagi bersinar seiring melajunya roda sepedahku terhadap jalan yang lurus menuju sekolah.  Sepanjang jalan ini aku yang mengenakan jaket hitam ini seakan tak merasakan gerahnya tubuh karena aku tau hari ini akan terasa lebih sejuk dari yang aku pikirkan.

 

Hari itu adalah hari dimana aku sangat ingin meminimalisir kegiatanku yang biasanya selalu terisi walau jadwal bolong bolong.  Hari dimana aku tau harus seperti apa dan berbuat apa.  Aku mulai hariku ini dengan segudang materi matematika yang harus ku pelajari.  Hari itu aku melewati hari dengan sangat cepat yang tanpa kusadari berjam jam aku tak lepas dari kursi dimana aku sedang berlatih soal, hingga suatu ketika aku mendengar bel untuk melaksanakan sholat.

 

Hari itu sekolahanku sedang mengadakan perlombaan seperti 17an.  Jadi keadaan kala itu rata rata orang sedang beristirahat.  Lain dengan lainya, aku sedang melakukan pengamatan harian, mengamati seseorang.  Aneh! Aku nggak nemu apa yang aku cari, biasanya dia selalu menampakan diri didepan sekolah bersama teman temanya.  Pikiranku kacau!

 

Matahari tepat di atas kepala, ini membuat pikiranku semakin kacau!  Selepas sholat, aku hanya bisa duduk temenung, diam, berfikir.  GIni ya rasanya kembali terikat lagi.  Sudahlah, tak guna dan percuma aku memikirkan.  Bisa dibilang ini adalah contoh cinta yang tak mungkin jadi.  Aku tau orangnya dan aku tau kondisiku. Jelas percuma.

 

Ketika semua suasana tersebut sedang kunikmati bersama sepiring nasi ayam kecap, aku menemukan sebuah jawaban mengapa hari ini bakal terasa lebih sejuk.  Jaket hitamku ini ternyata hari ini tidak memberikan gerah.  Justru dengan jaketku ini terik matahari pun terasa nyaman.  Aku menemukan kesejukanku dimana aku sedang berada di situasi panas, kacau, khawatir.  Aku menemukanya tepat di tempat dimana aku sedang mencoba mengunyah semua makananku saat itu.  Ternyata itu kamu toh.  Kamu lah yang ternyata berhasil mendinginkanku dengan caramu yang tidak biasa itu? Ketika aku mencarimu lalu kamu tak muncul melainkan mengejutkanku di ruang makan itu? Wahai gadis ber jilbab biru.

 

Sedikit berlebihan, tapi senang rasanya bisa kembali terikat oleh perasaan ini.  Rasa itu akan selalu ada sampai tuhan memberitahuku mana yang aku harus pilih.  Perasaan yang akan selalu kamu isi dan akan selalu terisolasi dengan baik.  Kamu yang mengisi hatiku, takkan pernah usai.  Hanya kecuali kamu mengambil paksa semua itu.

 

 

Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s