Bodoh

Kenapa aku bodoh? Aku bisa bisanya jatuh pada orang yang jauh dibawahku, saat ini hal yang paling bodoh yang pernah tak lakuin ya itu, gimana bisa? Aku kualat …. emang kaya gini ini datengnya nggak bisa ditebak ._.

Kedua, kalo kaya gini situasinya, kalo mau bilang juga susah … Kalo mau diem juga susah … Serba salah. Tolong dong, seseorang diluar sana. Beritau dia, tapi jangan bikin dia kaget terus menjauh 😦 I can’t lose again!

Advertisements

EOS 60D.

Pertama, tulisan ini ditujukan kepada teman saya pemilik kamera Canon EOS 60D

 

” Tiaraa aku pinjem kameramu boleeh? “, Seruku saat menghampiri dia.

” Butuh kapan Haq? Yo nanti tak bawkan. “,

” Senin Ti, bisa kan? “,

” Bisaa, tapi siangnya tak pake dulu oke? “,

” Iyoo, makasih ya “,

Sepotong percakapan itu selalu terjadi hampir setiap minggu beberapa bulan yang lalu.  Pada saat itu memang ada 3 project yang membutuhkan kamera yang mumpuni untuk rekaman video.

Aku rasa cukup, rasa terimakasihku yang se besar besarnya karena kamu bisa mempercayaiku jika aku meminta sesuatu. :”)

Terima kasih, kau adalah teman yang baik!!

Yang gak perlu dijawab

Kiddos hmm, yupp. Emang bisa bedain ya kalo misalnya 10th lagi mereka bakal sama? Nggak lah. Mereka pasti tumbuh. Haha kayaknya ini karma + beban psikologis. Hmm.

Jika kau menanyakan kenapa? Aku jawab ya ini namanya ketarik. Bukan, kalo gamu gatau alasanku kenapa mending gausah ngomong dulu. Aku emang sudah lama ketarik, cuman baru ini berani sedikit mempublikasikanya. Kenapa? Ya karena aku gabisa cerita ke orang. Singkatnya aku nggak bisa mendem semua, ya akhirnya aku tulis di blog ini.

Mungkin ini juga ga bertahan lama, secara dia aja belum melewati masa sma. Kuliah apalagi …. Nah aku sekarang di penghujung sma, trus nanti gimana dong? Nah iya ini aku bingung.

Bertahan atau nggak, yang jelas sekarang lagi uas semester 1. Pa boleh buat, tinggal aja dulu. Toh ya bisa ketemu setiaphari meskipun cuman di fotonya doang ….. Sampai waktunya

Alya Tara Saky, iya itu namanya. Lucu, pintar dan hal hal yang kamu harapkan dari perempuan cantik ada padanya. Pernah aku tanya dia tentang arti namanya, dia jawab bahwa artinya adalah bintang yang tinggi (susah di raih) mungkin itu menjelaskan dengan jelas bahwa dia bukan cewek yang biasanya dan susah untuk di goda orang. Tetapi, apa boleh buat. Dia sudah membawaku pada suatu keadaan yang dimana aku mabok karenanya.

Ketemu lagi

Hmm … Nasib malang menimpaku, tuhan sedang menguji seberapa besar kepercayaanku padanya.  Ya aku sedang berada di masa dilema.  Aku yang kali ini terhimpit oleh harapan yang mulai tumbuh di antara asingnya aplikasi path yang memang sengaja aku download hanya karena dia.

Kisahnya dimulai ketiga sabtu siang minggu lalu … Dimana aku sedang asyik menikmati mie ayam di warung, aneh tiba tiba hape berdering. Seketika itu aku ambil dan kaget, ternyata dia yang selama ini menghilang akhirnya memberanikan diri menampakan namanya di secuil pixel layar hapeku yang kecil ini. Seketika itu aku bahagia.

Saat itu tak banyak kata yang di ketik karena memang saat itu aku harus fokus les, ya jadi saat itu juga aku merasa percakapan kami sia sia.  Hingga sabtu ini …..

Logo telpon ijo dengan berjudulkan Whatsapp membawa pesan dari sosok manusia yang dari minggu yang lalu dan di jam yang sama nama nya menampakkan diri di layar kecilku.

Siapa yang nggak bahagia ketika orang yang di pujanya menyapa dengan penuh makna? Aku pun seketika luluh di hadapan hapeku sendiri.  Ketika itu, ku manfaatin semua detik yang ku punya untuk mendapat info lebih dalam tentangnya, alhasil aku harus mendownload sebuah aplikasi socmed yang sebenernya aku nggak terlalu butuh / pengen.

Jam demi jam, menit dan ratusan detik ini serasa selamanya jika yang kumaksud adalah hanya bersamanya. Meskipun hanya sebatas kata dan kalimat dari pihak ke tiga yang belum tentu dia memberi statemen begitu, karena bisa jadi aku sempat meragukan bahwa itu di bajak oleh temanya ato apalah.

Oh tuhan, terimakasih. Meskipun sampai sekarang dia juga belum peka, tak apalah yang penting aku sudah terbangun. Berkatmu.

Wish.

Pelan tapi pasti, semua berjalan sesuai irama. Aku yang dulu tersesat sudah berusaha kembali ke jalan yang benar. Seperti apa kata orang tentang kebiasaan seseorang hanya dipengaruhi oleh berapa kali kegiatan / aktivitas itu dilakukan per tiap kesempatan yang ada, maka tak salah jika sekarang aku lebih menjaga diri. 

Terangnya sinar matahari yang menembus sela sela jendela membuatku selalu silau dipagi hari. Rasa syukur selalu ada ketika aku merasa, “oh tuhan, maafkanlah dosaku yang setiap kali kau bangunkan aku selalu menunda waktumu”.  Disaat yang sama aku melihat dari kejauhan orang orang sudah pada sibuk dengan aktifitas dan kegiatan di pasar yang setiap hari ditandai oleh suara gemuruh mobil pickup dan toa pengumuman masjid setempat.

Di dalam kesunyian waktu pergantian antara malam dan pagi, pernah aku terbangun dan berfikir.  Memang, berfikir adalah kegiatan favoritku.  Aku suka memutar balik buku dongengku dan menikmati seluruh isinya sembari mendengarkan lagu paduan suara bangsawan eropa 1600s yang selalu menggetar hati dengan lembut dan tegasnya pergantian nada yang mereka nyanyikan. Aku berfikir, dimana aku mendapatkan hadiah hidupku, bagaimana rasanya, bagaimana motivasinya, agar aku kelak dapat mewujudkanya.

Nikmatnya udara segar dan embun pagi yang selalu menetes dari ujung daun yang jatuh ke daun lain, lalu ada embun di kaca yang selalu aku tuliskan namanya yang akan membekas pada sore harinya, yang juga pada malam hari itu, ketika aku sedang duduk menatap langit dibalik jendela, bekas air dari embun yang mengering itu masih terpampang namanya. Cara itu kubiasakan dengan asumsi aku bukan playboy yang suka gonta ganti pasangan ketika aku sudah mempunyai dia.

Suatu ketika, dia menghianati cintaku, komitmen antara 2 insan yang saling bahagia ataupun yang tetutup oleh bahagia ini ludes, aku yakin, ini semua adalah plot tuhan yang membuatku dapat bertemu dengan dia yang lain, yang tidak membuatku harus mati ditempat kelak.

Dari dalam goa yang hitam dan gelap, suara menakutkan serta gerakan gerakan yang ditimbulkan oleh gesekan pasir dan sepatu itu tiba tiba seolah olah berbisik padaku, ” hai kawan, kau akan menemukannya, menemukan yang baru “. Aku diam dan takut.

Mencoba mengesampingkan unsur mistis, ya ternyata itu benar. Harapan tak akan pupus ataupun lapuk. Harapan selau ada bagi yang berharap maupun yang percaya oleh keberadaanya.

Secuil harapanku, melihatmu, siapa kamu? Siapa kamu dibalik tirai yang disebut masa depan itu?