Aca Si Anak Jeruk

Ketika itu matahari sedang berdiri tegak simetris, tepat di atas kepala Aca.  Keringat letih membasahi seluruh badanya yang tinggi itu memantulkan cahaya sehingga kulitnya berasa seperti bintang diantara rumput rumputan yang hijau dan luas itu.  Aca, begitulah panggilanya.  Tubuhnya tinggi, wajahnya berseri,  kulitnya putih, sangat indah menawan.   Dibalik semua itu, terbesit sifatnya yang sangat layak mendapat apresiasi teman temanya.

Hari kala itu sedang ceria, awan yang nampak indah menghiasi langit ditemani oleh matahari yang malu malu menampakan diri di antara kerumunannya.   Dari garis horizon terlihat gadis yang sedang berkebun, menggunakan topi pantai  warna oranye, baju berwarna saturasi antara merah dan kuning yang ditambah oleh sepasang sepatu boots berwarna  emas.  Terlihat Aca yang sedang asyik memetik hasil kebun yang selama ini ditunggu tunggu olehnya, juga para teman teman Aca.  Setiap 3 bulan sekali, Aca dan teman temanya selalu mengadakan pesta di salah satu kebunya.  Lokasi favorit ialah Kebun Jeruk.  Aca selalu mengadakan pesta buah di Kebun Jeruk belakang rumah mungilnya.

Kamis malam,  tepat beberapa hari setelah panen.  Awan kelabu menghiasi langit sore yang cantik itu.  Ketika itu, Aca sedang bernasib sama dengan langit.  Dominasi kain tebal warna kelabu menutupi tubuhnya yang tinggi itu secara keseluruhan karena hawa dingin menusuk setiap tubuh penyuka warna oranye itu.  Hari itu dilalui oleh Aca dengan tegar dan santai.  Berharap dia akan mendapat kemudahan.  Ketika ke esokan harinya dia bangun.  Keajaiban pun terjadi, rumah yang dihuni Aca berubah total menjadi warna kesukaanya.  Oranye!  Ada gerangan apa?

Ada udang di balik batu,  ternyata tepat di hari minggu besok, Aca berulang tahun yang ke 19 tahun.  Teman temanya sedang menyusun rencana kejutan,  “ Aca Si Anak Jeruk, selalu menyukai hal berbau jeruk” begitulah tema yang direncanakan.   Aca pun saat itu berhasil di bingunkan dengan keadaan rumahnya yang aneh Jumat pagi.  Ke esokan harinya pun dia dikejutkan lagi dengan  kebun jeruknya yang berbuah lebat dan matang semua.  Hingga tepat hari Minggu malam ketika dia sedang duduk temenung, sendirian, meminum segelas jus jeruk kesukaanya kaget dengan cahaya aneh di Kebun Jeruknya.  Dia pun marah, karena selain berisik, ada cahaya warna warni diantara lamunanya yang membuat dia risih dan terganggu.  Setelah diselidiki, Aca terkejut.  Aca melihat seluruh teman temanya membawa lilin dan seluruh atribut oranye.

Airmata bahagia mengalir sedikit demi sedikit diantara pipinya, menghiasi wajah cantiknya yang menatap seluruh bagian rencana dari teman temanya yang usil tersebut.  Wajahnya yang semula kecut, tiba tiba berubah menjadi seperti wajah kucing di jalan raya yang kagum dengan lampu lampu mobil di jalanan.  Beginilah kisah bahagia dari seorang gadis remaja pedesaan.  Kehidupan sederhana bukan berarti tidak bahagia.  Bahagia itu bisa dimana saja, berwujud apasaja.  Inilah Aca, si anak jeruk.

Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s