Apakah

Okai kelihatanya sinar itu mulai meredupkan cahayanya, terlihat dibalik dedaunan yang padat dan lebat sebuah siluet aneh dengan dua kaki menggantung di sela sela ranting, bukan, melainkan ternyata aku sendiri yang membuat siluetnya dengan duduk santai diantara dedaunan itu. Tapi kenapa? Ada apa dengan aku?

 

Andai kata mereka lelah lalu merebahkan tubuhnya sehingga tak ada lagi namanya perjuangan mungkin aku bisa saja berdiri tegap dan menunjukan betapa hebatnya diriku, hanya saja.  Ketika semua sudah berlari mengejar matahari, aku berdiri tegap terdiam sendiri.  Emosi yang bahkan api seukuran matahari belum mampu menandingi luapan isi hati seorang yang dikhianati.  Hanya ketika itu saja dan tak ada lagi.

 

Adapun rembulan tertawa terbahak bahak melihatku sendiri, tak apa lah, nanti saya juga saya mati akan sendiri lagi.  Ketika ditanya apa pilihan hati, maka diri berjanji bahwa usaha adalah harga mati.  Sebuah persembahan dari diri, nyawa ini, engkau wahai bidadari, jagalah, tuhaaan! Jadikanlah aku sebagai yang bisa baginya, bagi dia, bagiku sediri juga.

Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s