Wish.

Pelan tapi pasti, semua berjalan sesuai irama. Aku yang dulu tersesat sudah berusaha kembali ke jalan yang benar. Seperti apa kata orang tentang kebiasaan seseorang hanya dipengaruhi oleh berapa kali kegiatan / aktivitas itu dilakukan per tiap kesempatan yang ada, maka tak salah jika sekarang aku lebih menjaga diri. 

Terangnya sinar matahari yang menembus sela sela jendela membuatku selalu silau dipagi hari. Rasa syukur selalu ada ketika aku merasa, “oh tuhan, maafkanlah dosaku yang setiap kali kau bangunkan aku selalu menunda waktumu”.  Disaat yang sama aku melihat dari kejauhan orang orang sudah pada sibuk dengan aktifitas dan kegiatan di pasar yang setiap hari ditandai oleh suara gemuruh mobil pickup dan toa pengumuman masjid setempat.

Di dalam kesunyian waktu pergantian antara malam dan pagi, pernah aku terbangun dan berfikir.  Memang, berfikir adalah kegiatan favoritku.  Aku suka memutar balik buku dongengku dan menikmati seluruh isinya sembari mendengarkan lagu paduan suara bangsawan eropa 1600s yang selalu menggetar hati dengan lembut dan tegasnya pergantian nada yang mereka nyanyikan. Aku berfikir, dimana aku mendapatkan hadiah hidupku, bagaimana rasanya, bagaimana motivasinya, agar aku kelak dapat mewujudkanya.

Nikmatnya udara segar dan embun pagi yang selalu menetes dari ujung daun yang jatuh ke daun lain, lalu ada embun di kaca yang selalu aku tuliskan namanya yang akan membekas pada sore harinya, yang juga pada malam hari itu, ketika aku sedang duduk menatap langit dibalik jendela, bekas air dari embun yang mengering itu masih terpampang namanya. Cara itu kubiasakan dengan asumsi aku bukan playboy yang suka gonta ganti pasangan ketika aku sudah mempunyai dia.

Suatu ketika, dia menghianati cintaku, komitmen antara 2 insan yang saling bahagia ataupun yang tetutup oleh bahagia ini ludes, aku yakin, ini semua adalah plot tuhan yang membuatku dapat bertemu dengan dia yang lain, yang tidak membuatku harus mati ditempat kelak.

Dari dalam goa yang hitam dan gelap, suara menakutkan serta gerakan gerakan yang ditimbulkan oleh gesekan pasir dan sepatu itu tiba tiba seolah olah berbisik padaku, ” hai kawan, kau akan menemukannya, menemukan yang baru “. Aku diam dan takut.

Mencoba mengesampingkan unsur mistis, ya ternyata itu benar. Harapan tak akan pupus ataupun lapuk. Harapan selau ada bagi yang berharap maupun yang percaya oleh keberadaanya.

Secuil harapanku, melihatmu, siapa kamu? Siapa kamu dibalik tirai yang disebut masa depan itu?

Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s