Sebuah Persembahan

Atas nama teman saya, maka munculah tulisan berikut mengenai apa di Indonesia

Di sini, di depan mamang tukang
sayur, ibu2 tidak lagi ribut bicara soal mesin cuci baru tetangga,
atau tentang selingkuhan siapa,
mereka lebih sibuk diam, menatap dua siung bawang putih bisa seharga 5ribu perak, padahal beberapa waktu lalu uang yang sama bisa membeli 1 kilogram, jangan tanya soal daging sapi, tempe, tahu, semua menjulang tinggi

Di sini, di depan televisi, anak anak kami tidak lagi menonton kartun, melainkan menyimak acara musik yang entah apa bedanya antara mentertawakan dan menghina
terbahak dengan memaki, menjelekkan, merendahkan orang tua, guru, bahkan pahlawan perang
semua terlihat modern, semua terlihat bahagia, tentu saja, dengan latar dayang – dayang penonton yang selalu siap dengan gerakan cuci-cuci

Di sini, di kamar-kamar,
orang orang tidak lagi sibuk membaca buku, melainkan menjadi warga negara dunia, say hello ke antah berantah, tapi tetangga sebelah tidak kenal. Menulis banyak, tapi sejatinya tidak menulis, karena hanya menulis dinding atau celoteh
membaca banyak, tapi sejatinya tidak membaca, hanya membaca celoteh melakukan perjalanan kemana kemana, tapi sejatinya ya hanya di depan layar kecil saja
dan berita seupil bisa jadi perdebatan panjang lebar, banjir bah komen orang-orang kehilangan keramahtamahannya
sedikit memahami, lebih banyak berseru

Di sini, di korang-koran, berita pencuri, tikus berdasi, semua
berebut tumpah di halaman pertama jangan lupa pembunuhan, perkosaan, menjadi bumbu-bumbu menarik. Membaca
pesohor selingkuh, pesohor kawin
cerai, pesohor heboh tentu menarik, hingga tidak tahu lagi mana batas penting atau tidak penting bermanfaat atau tidak bermanfaat

Di sini, di jalanan, di sekolah anak-anak tawuran tidak terkendali geng motor melintas bagai konvoi
terhormat, entah itu bebek atau harley. Menyontek jadi wabah yang tahu sama tahu saja
dan sekolah, pelan tapi pasti menjadi lahan bisnis yang menarik

Tapi setidaknya, Kawan
di sini, di tempat yang tidak pernah
dipikirkan orang.  Di sudut yang diabaikan begitu saja, berdiri gagah orang orang yang masih peduli, dan mereka terus bekerja
mencoba merubah situasi dengan hal paling kongkret
Sungguh selama mereka masih ada, Negeri tidak akan pernah berada di ujung tanduk.

Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s