Sebuah Celotehan Malam Senin

Sudah lama ku mengenalmu, sudah cukup pandanganku. Sudah baik aku menjaga kehormatanmu. Sudah baik aku mengorbankan semua yang ku bisa. Sudah cukup kalimat manis. Sudah cukup amarah yang terucap. Terlalu banyak sayang yang tidak terucap lantaran sibuk membuktikan. Belum aku mendapat cukup sayang. Belum cukup bukti. Belum cukup pengertian. Belum cukup lelaki yang kau anggap dekat tuk jadi spesial. Tak boleh aku jadi sahabatmu. Tak boleh aku mengajakmu hanya sekedar berkeliling kecil sekitar area rumahmu yang tentram. Belum terlaksana mimpiku. Belum terlaksana rencana kecilku hingga ditolak ketika meminta izin mengunjungimu dengan niat baik. Gagal sudah aku mencari nama dalam ruamg lingkup keluarga besarmu. Gagal.

Tapi ku merasa kurang untuk memberimu lebih, aku merasa kurang untuk menjadi yang PALING BAIK. Karena aku tau seorang perempuan itu layak tuk diperjuangkan. Orang anggap aku galau. Aku menyebutnya sebagai bukti kecil nyata yamg kau tak pernah berikan.

Aku memang begini adanya, kaupun jiga begitu adanya. Ku tak berbadan atletis. Jauh. Aku juga nggak sepintar yang kamu kira yang dapat memecahkan rumusan Energi kinetik fisika. Tapi ketika aku janji. Sampai saat terakhir kalimatku. Belum ada dusta. Aku hanya berfikir, kalau aku sampai segininya. Sampai segininya aku karenamu. Karenamu yang selama kita duduk berdua dalam bioskop hanya menjaga jarak karena aku tahu, kehormatanmu adalah segalanya. Kamu mahal. Bukan perempuan gampangan yang dicari seperti membeli McDonals. Kalo gak paha ya dada. Kadang sayap juga boleh. Bagaimana denganmu? Apakah sema yang kamu katakan dapat aku percaya? Kalaupun tidak buatku, apakah setidaknya buat penerusku yang mungkin akan jadi pengganti?

Apa yang aku bilang sejak awal? Apakah kau hanya menerimaku karena kasian belaka? Apa kau nyesel? Menyadari sesuatu yang nggak kau suka? Pasti salah satu dari itu pasti bener.

Aku ingat. Aku sampai hampir mengorbankan sahabat perempuanku hanya demi kamu. Kamu yang sahabat laki lakimu banyak aku tak merasa akan kau berkhianat padaku. Yang nyatanya akupun sebagai kekasih status. Jarang dianggap sahabat. Tapi begitu kelihatan cuek ngambek.

Aku ingat ketika kamu cemburu dengan orang itu. Orang yang menurutmu bakal merusak hubungan. Nyatanya orang yang selalu jadisalahpaaham kau semata.

Capek. Tidur sajalah. Celotehan belum selesai.

Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s