Bodoh

” Aduh, bodohnya aku. Sial! Dia lebih senang dengan orang lain! Laki macam apa aku ini?”

Ya itulah aku, dibutakan oleh perasaan belaka. Aku terlalu mempercayainya. Dia adalah ibu kedua bagiku. Aku menghormatinya. Aku menyayanginya.

Diluar sana, aku mengetahui akan ada banyak rintangan diantara kita nanti. Aku berkomitmen. Karena aku percaya. Karena aku bahagia. Karena atas nama emosi yang tak bisa diartikan.

Beberapa waktu berlalu. Jalanan berlubang terlewati. Sialnya mobil cinta kami mogok. Dia lebih memilih numpang dengan mobil temanya.  Aku tau aku salah. Setidaknya, hargai aku yang telah berupaya membangun mobil ini sejak awal. Nyatanya Aku bodoh.

Comment?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s